Cerita Rakyat dan Sosok yang Dihormati di Renggalek: Antara Mitos Lokal dan Kenangan Warga
Cerita rakyat Renggalek dan sosok yang dihormati warga: antara mitos lokal, ritual tani, dan kenangan kolektif yang masih hidup pada 2025.

Fakta Kunci
- Renggalek berada di pesisir utara Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, berbatasan dengan Selat Madura.
- Mayoritas warga Renggalek hidup dari pertanian, perkebunan, dan nelayan kecil.
- Cerita rakyat di Renggalek umumnya dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi, bukan tercatat di prasasti.
- Tokoh yang dihormati di kampung biasanya kiai, sesepuh, atau petani sepuh yang dianggap membuka lahan.
- Tradisi tani seperti selamatan tanam dan panen masih dijumpai di sejumlah desa Renggalek.
Renggalek dan Ingatan yang Tidak Ditulis
Perjalanan dari Situbondo ke arah barat melewati jalan pantai utara Jawa, melintasi sawah yang mengering di musim kemarau dan tambak yang menggenang saat hujan. Di kawasan Renggalek, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, cerita rakyat tidak disimpan di arsip. Ia hidup di warung kopi, di serambi musala, di obrolan petani yang menunggu air irigasi.
Renggalek bukan wilayah yang ramai dibicarakan dalam buku sejarah populer. Karena itu, warga yang saya temui lebih sering berbicara tentang sosok daripada tentang peristiwa besar. Ada nama-nama yang disebut dengan nada hormat, meski tidak ada prasasti atau buku yang mencatatnya. Umumnya mereka adalah kiai kampung, petani sepuh yang membuka lahan, atau orang yang dianggap pertama menanam padi di suatu blok sawah.
Keterbatasan catatan itu penting disebut sejak awal. Banyak cerita rakyat Renggalek bersifat lisan, sehingga versi antara satu kampung dan kampung lain bisa berbeda. Bagi warga, perbedaan itu bukan masalah. Yang penting pesan di dalamnya: kerja keras, gotong royong, dan hormat pada orang tua.
Mitos Lokal dan Ritual Tani
Salah satu cerita yang sering muncul adalah tentang sosok yang dianggap "mbah" atau pendiri kampung. Tidak ada bukti tertulis yang bisa saya verifikasi. Yang ada adalah makam sederhana di pinggir sawah, kadang hanya ditandai batu dan pohon besar. Warga setempat masih mengunjunginya, terutama menjelang musim tanam.
Ritual yang menyertai cerita itu juga sederhana. Sebagian petani di Renggalek masih menggelar selamatan kecil sebelum tanam dan setelah panen. Isinya bukan pesta besar, melainkan doa bersama, nasi tumpeng sederhana, dan makan bersama di pematang atau di rumah sesepuh. Tujuannya meminta keselamatan dan hasil panen yang baik.
Mitos lain yang beredar berkaitan dengan hewan dan alam. Ada cerita tentang ular besar yang menjaga sumber air, atau suara burung yang dianggap pertanda. Saya tidak bisa memastikan kebenaran cerita-cerita itu, dan warga pun tidak menuntut pembuktian. Bagi mereka, cerita itu berfungsi sebagai pengingat agar tidak merusak hutan, tidak mengotori mata air, dan tidak serakah terhadap alam.
Yang menarik, cerita rakyat di Renggalek tidak selalu tentang hal gaib. Banyak juga tentang orang nyata yang dianggap berjasa: guru ngaji yang mengajar puluhan anak, bidan kampung yang membantu persalinan, atau petani yang membagi bibit kepada tetangga saat gagal panen.
Sosok yang Dihormati dan Kenangan Warga
Di beberapa desa Renggalek, sosok yang paling dihormati biasanya bukan pejabat. Mereka adalah kiai, sesepuh, atau orang yang dianggap "sesepuh tani". Penghormatan itu tidak berbentuk monumen, melainkan kebiasaan: menyapa lebih dulu, mencium tangan, dan meminta restu sebelum hajatan.
Seorang warga di Kecamatan Banyuputih, yang tidak ingin namanya ditulis, bercerita tentang kakeknya yang dianggap membuka lahan di sebuah blok. Menurutnya, kakek itu datang saat wilayah masih berupa semak dan rawa. Cerita ini tidak bisa diverifikasi, tapi versi serupa juga muncul di kampung tetangga. Pola ceritanya mirip: sosok pembuka lahan, kerja keras, dan wasiat agar keturunan menjaga sawah.
Kenangan warga terhadap sosok-sosok itu bertahan karena dua hal. Pertama, mereka dianggap berjasa secara langsung. Kedua, kisah mereka diulang dalam acara-acara kampung, seperti tahlilan, selamatan, atau kenduri. Tanpa pengulangan itu, nama mereka bisa hilang. Karena itu, cerita rakyat di Renggalek lebih tepat disebut kenangan kolektif daripada dongeng.
Pada 2025, tekanan terhadap kenangan itu nyata. Anak muda banyak merantau ke kota, lahan sawah sebagian beralih fungsi, dan waktu untuk kenduri makin sempit. Meski begitu, di beberapa musala masih ada pengajian rutin yang menyelipkan cerita-cerita lama. Di situ, mitos dan sejarah kampung bercampur tanpa dipisahkan.
Antara Mitos dan Kenangan
Memisahkan mitos dan fakta di Renggalek bukan pekerjaan mudah. Banyak cerita tidak punya sumber tertulis, hanya penutur yang saling menguatkan. Sikap yang paling jujur adalah mengakui keterbatasan itu, sambil tetap mendengar.
Bagi warga, cerita rakyat bukan bahan perdebatan akademik. Ia alat untuk mengikat kampung: mengingat jasa, menjaga alam, dan menurunkan nilai kerja. Selama selamatan tanam masih digelar dan nama sesepuh masih disebut, cerita itu belum mati. Yang dibutuhkan bukan penulisan ulang yang mengarang, melainkan pencatatan yang hati-hati dan jujur.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Di mana Renggalek berada?
Renggalek adalah kawasan di pesisir utara Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, berbatasan dengan Selat Madura.
Apakah cerita rakyat Renggalek tercatat dalam buku?
Sebagian besar bersifat lisan dan dituturkan dari generasi ke generasi. Catatan tertulis terbatas, sehingga versi antar kampung bisa berbeda.
Siapa sosok yang paling dihormati di Renggalek?
Umumnya kiai kampung, sesepuh, atau petani sepuh yang dianggap membuka lahan dan berjasa bagi warga setempat.
Apakah tradisi selamatan tani masih ada?
Di sejumlah desa masih dijumpai selamatan sebelum tanam dan setelah panen, meski tidak semua kampung menggelarnya secara rutin.